Sabtu, 22 Februari 2025

Gerakan Dasar Pencak Silat

 


Pencak silat adalah seni bela diri tradisional Indonesia yang kaya akan teknik dan gerakan. Bagi pemula, memahami dan menguasai gerakan dasar sangat penting sebagai fondasi sebelum mempelajari teknik yang lebih kompleks. Berikut ini beberapa gerakan dasar dalam pencak silat:

1.       Kuda-Kuda

Kuda-kuda adalah posisi dasar untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas tubuh saat menyerang atau bertahan. Ada beberapa jenis kuda-kuda, antara lain:

  • Kuda-Kuda Depan: Salah satu kaki ditempatkan di depan dengan lutut sedikit ditekuk, sementara kaki belakang lurus untuk menopang tubuh.
  • Kuda-Kuda Belakang: Kaki belakang ditekuk dengan berat badan bertumpu di belakang, sementara kaki depan lurus.
  • Kuda-Kuda Samping: Kedua kaki dibuka lebar ke samping dengan lutut ditekuk, menjaga keseimbangan lateral.

2.       Sikap Pasang

Sikap pasang adalah posisi siap yang menggabungkan kuda-kuda dengan posisi tangan untuk pertahanan dan persiapan serangan. Sikap ini memungkinkan praktisi untuk lebih fleksibel dalam merespons serangan lawan.

3.       Pola Langkah

Pola langkah adalah teknik pergerakan kaki untuk mengatur posisi tubuh terhadap lawan. Beberapa pola langkah dasar meliputi:

  • Langkah Lurus: Bergerak maju atau mundur dalam satu garis lurus.
  • Langkah Zig-Zag: Bergerak menyilang ke kiri dan kanan untuk menghindari serangan.
  • Langkah Segitiga: Bergerak membentuk pola segitiga untuk mengelabui lawan.

4.       Arah Delapan Penjuru Mata Angin

Teknik ini mengajarkan pergerakan dan serangan ke delapan arah utama: depan, belakang, kiri, kanan, dan keempat sudut diagonal. Pemahaman arah ini membantu dalam mengantisipasi dan merespons serangan dari berbagai sisi.

5.       Pukulan Dasar

Pukulan adalah salah satu teknik serangan utama dalam pencak silat. Beberapa pukulan dasar meliputi:

  • Pukulan Lurus: Pukulan langsung ke depan dengan tangan sejajar bahu.
  • Pukulan Bandul: Pukulan dari bawah ke atas, biasanya mengarah ke dagu lawan.
  • Pukulan Melingkar: Pukulan dengan gerakan melingkar, mengincar sisi kepala lawan.

6.       Tendangan Dasar

Selain pukulan, tendangan juga merupakan teknik serangan penting. Beberapa tendangan dasar antara lain:

  • Tendangan Depan: Tendangan lurus ke depan dengan ujung kaki mengarah ke sasaran.
  • Tendangan Samping: Tendangan ke arah samping dengan posisi tubuh sedikit berputar.
  • Tendangan Belakang: Tendangan ke arah belakang tanpa mengubah posisi tubuh secara signifikan.

7.       Tangkisan

Tangkisan adalah teknik pertahanan untuk menahan atau mengalihkan serangan lawan. Beberapa tangkisan dasar meliputi:

  • Tangkisan Atas: Menangkis serangan yang datang dari atas menuju kepala.
  • Tangkisan Bawah: Menangkis serangan yang mengarah ke bagian bawah tubuh.
  • Tangkisan Luar dan Dalam: Menangkis serangan yang datang dari samping luar atau dalam.

8.       Elakan

Elakan adalah teknik menghindar tanpa kontak langsung, memungkinkan praktisi untuk menghindari serangan sambil mempersiapkan serangan balasan. Contohnya termasuk menggeser tubuh ke samping atau merendahkan posisi tubuh untuk menghindari serangan.

Menguasai gerakan dasar ini sangat penting bagi praktisi pencak silat pemula. Latihan rutin dan disiplin akan membantu meningkatkan keterampilan dan kesiapan dalam menghadapi berbagai situasi dalam bela diri.

 

Pendiri Tokoh Pencak Silat di Jawa Barat



Pencak silat di Jawa Barat memiliki sejarah panjang yang diperkaya oleh kontribusi sejumlah tokoh pendiri aliran-aliran terkenal. Berikut beberapa tokoh pendiri aliran pencak silat di Jawa Barat:

1. Embah Kahir (Silat Cimande)

Embah Kahir, juga dikenal sebagai Eyang Khair, adalah pendiri aliran silat Cimande. Beliau memperkenalkan aliran ini di desa Cimande, Bogor, sekitar tahun 1760. Silat Cimande dikenal sebagai salah satu aliran tertua dan memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan pencak silat di Jawa Barat.

2. Raden Jayaperbata (Silat Cikalong)

Raden Jayaperbata, yang juga dikenal sebagai Haji Ibrahim, adalah pendiri aliran silat Cikalong. Beliau berasal dari Cianjur dan mengembangkan aliran ini dengan fokus pada teknik kuncian dan penguncian lawan. Silat Cikalong berkembang pesat di wilayah Cianjur dan sekitarnya.

3. Abah Aleh (Panglipur)

Abah Aleh adalah pendiri Perguruan Pencak Silat Panglipur. Beliau menciptakan berbagai jurus ampuh yang menjadi ciri khas perguruan ini. Di bawah kepemimpinan putrinya, Eni Rukmini Sekar Ningrat, Perguruan Panglipur berkembang pesat dan dikenal hingga mancanegara.

4. Raden Ema Bratakoesoemah (PPSI)

Raden Ema Bratakoesoemah, atau dikenal sebagai Gan Ema, adalah salah satu tokoh pendiri Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI). Selain sebagai sesepuh pencak silat di Jawa Barat, beliau juga dikenal sebagai pejuang dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Gan Ema mulai belajar pencak silat sejak usia 9 tahun dan berkontribusi besar dalam pengembangan dan penyebaran pencak silat di Indonesia.

Kontribusi para tokoh ini telah membentuk dan memperkaya khazanah pencak silat di Jawa Barat, menjadikannya warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Indonesia.

Pencak Silat Budaya Sunda

 

Pencak silat merupakan seni bela diri tradisional yang telah menjadi bagian integral dari budaya Sunda di Jawa Barat. Selain berfungsi sebagai metode pertahanan diri, pencak silat juga mencerminkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat Sunda.

 

**Sejarah Pencak Silat dalam Budaya Sunda**

 

Jejak pencak silat dalam budaya Sunda dapat ditelusuri hingga masa Kerajaan Pajajaran. Naskah Kidung Sunda menyebutkan bahwa pada era tersebut telah dikenal tujuh aliran pencak silat. Salah satu aliran yang terkenal adalah Cimande, yang diperkenalkan oleh Embah Kahir sekitar tahun 1760 di daerah Sukabumi. Aliran ini menekankan teknik pertarungan jarak dekat dengan posisi siku yang dekat ke tubuh.

 

**Peran Pencak Silat dalam Masyarakat Sunda**

 

Pencak silat tidak hanya berperan sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter dan penyebaran nilai-nilai sosial. Latihan pencak silat menekankan pentingnya gotong royong, solidaritas, dan disiplin. Melalui latihan bersama, para praktisi belajar untuk saling membantu dan menghormati satu sama lain, yang sejalan dengan nilai-nilai sosial masyarakat Sunda.

 

**Pencak Silat sebagai Warisan Budaya**

 

Sebagai warisan budaya, pencak silat memiliki peran penting dalam menjaga identitas dan jati diri masyarakat Sunda. Upaya pelestarian terus dilakukan melalui berbagai perguruan dan komunitas pencak silat yang tersebar di Jawa Barat. Selain itu, pencak silat juga sering ditampilkan dalam berbagai acara budaya dan festival sebagai bentuk apresiasi terhadap seni tradisional ini.

 

**Kesimpulan**

 

Pencak silat adalah cerminan dari kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur masyarakat Sunda. Melalui pelestarian dan pengembangan seni bela diri ini, generasi muda dapat terus menghargai dan menjaga warisan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.

Minggu, 21 April 2013

PENCAK SILAT SANALIKA


Profil Perguruan Pencak Silat | SANALIKA

Perguruan pencak silat |Sanalika| sebuah profil lengkap
Di bawah ini adalah profil perguruan pencak silat Sanalika yang menurut saya cukup lengkap karena berisi sejarah, silsilah keilmuan, para tokoh, kurikulum, informasi tempat latihan, dan kontak person.

sumber :  Kang Dinka Soemadipradja 

PERGURUAN PENCAK SILAT SANALIKA

Perguruan Pencak Silat Sanalika atau lebih spesifik disebut Paguron Penca Sanalika, didirikan di Garut pada tahun 1926 oleh Bapak M. Utuk Sumadipradja, ketika beliau menjabat sebagai CamatBojong Salam, Garut.

Perguruan ini merupakan salah satu dari sekian banyak Perguruan Pencak Silat yang didirikan pada jaman sebelum kemerdekaan seperti Panglipur (1909), Timbangan (1927), Pusaka Siliwangi (1930), Nampon (1932) dll.

Pada awalnya perguruan ini didirikan berdasarkan ajaran dari tiga guru pendiri, masing-masing dari guru penganut aliran Sabandar (Jurus Tujuh), Cimande dan Kari. Kemudian ditambah aliranCikalong dan jurus aliran-aliran lainnya. Inti jurus-jurus tersebut kemudian digabung ke dalam Jurus Tujuh sebagai jurus dasar, sehingga Jurus Tujuh merupakan jurus pokok yang harus dikuasai oleh setiap praktisi Penca Sanalika.

Dari sekian banyak murid-murid Bapak Utuk pada generasi pertama yang turut menyebarkan ajaranpencak silat Sanalika, tercatat diantaranya  
  1. Bapak Karta Ateng atau Ateng Karta (Bojong Salam
    Garut 1926), menyebarkan Sanalika di daerah Garut
    dan Bandung. 
  2. Bapak Djaya, Cikananga (Bojong Salam, Garut 1926),
  3. Bapak Iko, (Bojong Salam, Garut 1926),
    menyebarkan Sanalika di daerah Pangalengan,
  4. Bapak Dadi dan Bapak Eo (Pameungpeuk, Garut
    1930),
  5. Bapak Gunawidjaya (Kadungora, Garut 1932)
  6. Bapak Mae (Leles, Garut 1932)
  7. Bapak Kandi (Cipatat 1933), menyebarkan Sanalika
    didaerah Kabupaten Bandung dan Purwakarta
  8. Bapak Ajun (Cikande, Banten 1935)
  9. Bapak Achmad Dimyati (Sukabumi 1940),
    mengembangkan Sanalika di daerah Sukabumi dan
    Cianjur, berpusat di Sukaraja, Sukabumi.  


Setelah para perintis tiada, ajaran Pencak Silat Sanalika menyebar melalui para generasi penerus ke berbagai daerah secara sporadis, exclusive dan selektif.

Perkembangannya dilakukan oleh para guru dengan mengajar secara tradisional/individual, melalui pola dasar Jurus Tujuh atau Jurus Lima. Berbeda dengan perguruan lain, dimana sentral pendiri bertempat di satu tempat atau di sekitar tempat perguruan didirikan, Sanalika menyebar tanpa koordinasi dengan tokoh pendirinya, karena Bapak Utuk sebagai pendiri selalu mobile dengan tugas jabatannya. Akibatnya para penerus, baik individu maupun perguruan (saat ini umumnya berada di generasi ke III), banyak yang merasa kehilangan mata rantai atau benang merah dengan pendiri dan para pendahulunya, Mereka antara lain Perguruan Pencak Silat Sanalika yang diprakarsai oleh Bapak Kartono, Bapak Umar, salah seorang penerus Bapak Ateng Karta di Jalan Baladewa Bandung,GB Sanalika yang diprakarsai oleh Bapak H. Wanta dan Bapak H. Widjaya Sulaeman di Melong Asih Bandung, Sanalika Tri Tunggal Bandung penerus Bapak Iko Pangalengan, Sanalika Cinde Wulung Sukabumi penerus Bapak Achmad Dimyati, Sanalika Pusaka Kalidasa Cipatat Bandung penerus Bapak Kandi, Sanalika Kilat Buana Soreang Bandung dan banyak lagi. Sebagian dari mereka bernaung dibeberapa organisasi resmi seperti PPSI dan IPSI, bergabung dengan beberapa organisasi independen lainnya atau berdiri sendiri.
Sejak didirikan tahun 1926, Perguruan Pencak Silat Sanalika telah melangkah dan berkembang melalui kerja keras para penerusnya dari generasi ke generasi.

Kini keberadaannya bagai gunung es, sedikit muncul kepermukaan namun mengakar di masyarakat dan menyebar ke berbagai daerah di Iindonesia bahkan sampai ke luar negeri, mengingat para penerus masih berpegang teguh kepada prinip beladiri dan baru akhir-akhir ini mulai mengikuti beberapa event prestasi.
Mereka selalu konsisten dan dengan rasa memiliki yang tinggi, mengemban amanat pendiri dan para pendahulu yang pada intinya agar selalu memupuk silaturahmi diantara sesama komunitas pencaksilat dan sesama umat pada umumnya. Menumbuhkembangkan seni budaya Pencak Silat untuk kemudian diwariskan kepada generasi mendatang.
Materi Pelajaran Pokok

Materi pelajaran Beladiri Pencak Silat Sanalika secara umum terdiri dari 3 tahap yaitu tingkat Olah Raga, tingkat Olah Rasa dan tingkat Olah Jiwa. Hal tersebut dipilah berdasarkan tingkatan nalar setiap individu untuk mencapai wujud keseimbangan hidup mental dan spiritual. 


  1. Pada tingkat Olah Raga seperti pada umumnya,
    gerakan pencak silat Sanalika sangat mengandalkan
    kekuatan phisik murni dengan pola dasar Jurus Tujuh
    atau Jurus Lima. Mengutamakan kekuatan dan
    kecepatan gerakan (power speed), harmonisasi
    gerakan anggota phisik dan tidak memberikan
    kesempatan kepada lawan. Sesuai dengan sifat
    gerakannya, maka pada tingkat ini Sanalika bisa
    diartikan “seketika”. 
  2. Pada tingkat Olah Rasa, Sanalika mengajarkan
    kehalusan rasa. Dari harmonisasi gerakan anggota
    phisik yang terlatih secara kontinyu, rasa didalam
    raga diaktifkan secara bertahap sampai mencapai
    suatu tingkat maksimal. Gerakan-gerakan jurus lebih
    mengarah kepada permainan seni usik dimana dalam
    melakukan usik-usikan (kontak phisik), para praktisi
    lebih cenderung menggunakan unsur rasa tanpa
    menimbulkan cedera fatal pada lawan bermain. Di sisi
    lain, meningkatkan empati, mendalami etika dan
    kehalusan akal budi dalam bersosialisasi didalam
    masyarakat, sehingga berkembang menjadi tali
    silaturahmi yang dalam.
  3. Pada tingkat Olah Jiwa, ajaran Sanalika lebih
    menekankan pendalaman akidah dan pencerahan diri.
    Setiap individu Sanalika harus meningkatkan iman dan
    taqwa, taat beribadah, mendalami tauhid dengan
    berzikir setiap saat. Mendekatkan dan berserah diri
    kepada Sang Maha Pencipta, agar selalu mendapat
    karunia dan lindungan dari Allah Swt. Dalam konteks
    ini, Sanalika dapat diartikan “Saat atau Waktu”,
    dimana para praktisi harus selalu bisa menghargai
    waktu (Surat Al Ashr : Q.103) 

 Secara berangsur, komunitas Sanalika yang semula terpencar, kini sebagian besar telah terhimpun kembali. Perguruan Pencak Silat Sanalika saat ini mencoba untuk melakukan koordinasi dan inovasi. Secara proaktif dan secara bertahap berusaha meningkatkan sistem manajemen, baik organisasi maupun teknis sesuai dengan perkembangan jaman. Menciptakan kemasan dan metoda yang memiliki nilai jual dengan tetap merujuk kepada jurus-jurus dasar, tanpa meninggalkan pola aslinya dengan harapan agar seni Pencak Silat mampu bersaing dengan seni beladiri lainnya yang telah lebih dulu merebut hati penggemarnya diseluruh dunia. Mencetak kader-kader bangsa melalui seni dan olah raga Pencak Silat.

Visi : “Membentuk manusia yang berkualitas baik physik, mental maupun spiritual”.

Misi : “Mencetak manusia Pencak Silat yang memiliki kekuatan phisik, nalar dan mental”

Motto : “Wani teu kumawani, Pinter teu guminter, Panceg dina jatidiri”.

Pada akhirnya para praktisi Sanalika diharapkan menjadi Satria Pinandita, yaitu para ksatrya pemberani dengan tingkat wawasan dan keimanan yang tinggi, Insya Allah!
Informasi lebih lanjut tentang Perguruan Pencak Silat Sanalika, dapat menghubungi secara langsung maupun melalui telepon kepada :



1. Dinka Sumadipradja, Jalan Mulia Graha III No.39, 
Cipaganti Graha I, Bandung – 40286, telepon 
022-7563341, 
2. Nandar Iskandar dan Toto Sumadipradja, Jalan Raya 
Sukarame, Cipatat, Kabupaten Bandung telepon 
022-6900520. 


SEKILAS RIWAYAT HIDUP PENDIRI

BAPAK M. UTUK SUMADIPRADJA
Beliau lahir di Tarogong Garut tanggal 13 Mei 1897 dari ayah bernama Rd. Sastrajuda asal Talaga Kuningan dan Ibu bernama Nyi Rd. Asmirah keturunan Biru, Tarogong, Beliau mulai belajar Pencak Silat tahun 1910 dari Bapak Nata, seorang sepuh di Tarogong. Dari Bapak Nata ini beliau menerima ajaran dasar Jurus Tujuh.

Tahun 1920, ketika beliau sekolah di OSVIA Bandung, beliau berguru kepada Bapak Sukanta, pakarAliran Cimande di Nyengseret,. Tahun 1925 beliau berguru kepada Rd. Haji Tarmidi (Na’ib Cikalong Cianjur), khusus Aliran Kari. Berbekal ilmu dari ketiga guru tersebut, tahun 1926 beliau mendirikan Perguruan Pencak Silat Sanalika. ketika beliau menjabat camat Bojong Salam Banyuresmi Garut.
Tahun 1933, ketika menjabat Camat Cipatat Kabupaten Bandung, beliau berguru kepada Bapak H. Obing Ibrahim (Gan Obing) Cianjur, pakar pencak silat aliran Cikalong dan Sabandar, murid Rd. Haji Ibrahim.

Seiring dengan jabatannya sebagai seorang pamongpraja yang sering berpindah dinas, beliau mengembangkan Sanalika mulai dari daerah Garut, Ciamis, Bandung, Sukabumi sampai ke daerah Banten, khususnya ketika menjabat sebagai Wedana di Malingping, Banten Selatan.
Karir terakhir beliau tercatat sebagai Wedana Cicurug Sukabumi sekitar tahun 1940-an. Setelah pensiun, beliau menetap di Sukabumi sampai akhir hayatnya pada tahun 1957, dalam usia 60 tahun dan dimakamkan di kota ini.
Semasa hidupnya beliau sering menjalin silaturahmi dengan para tokoh pencak silat lainnya saat itu seperti Bapak Rd. Ema Bratakusumah (Bandung), Bapak H. Hasbullah (Cimande), Mama Nampon dan para pakar pencak silat lainnya.
Dari sekian banyak murid-murid generasi pertama Beliau di Garut 1926, tercatat diantaranya Bapak Ateng Karta (Bojong Salam), Bapak Iko (Pangalengan), Bapak Djaja (Cikananga). Bapak Kandi (Cipatat 1933), Bapak Ajun (Cikande 1935) dan Bapak Achmad Dimyati (Sukabumi 1940).



BAPAK M. POPO SUMADIPRADJA

 
Setelah Bapak Utuk wafat, putra tertuanya, Bapak M. Popo Sumadipradja, meneruskan Perguruan Pencak Silat Sanalika. Beliau lahir tanggal 12 Januari 1919 di daerah Kopo Soreang, Bandung dengan nama Mohammad Sobari. Ibunya bernama Nyi Rd. Iyar Wiarsih salah seorang puteri Kanduruan Rd. Hardjadisastra Cianjur.

Beliau mulai belajar Pencak Silat langsung dari ayahnya tahun 1930 pada usia 11 tahun. Setelah selesai sekolah tahun 1936, beliau mendampingi ayahnya menyebarkan ajaran silat Sanalika di Jawa Barat sampai ke daerah Malingping Banten Selatan.

Ketika ayahnya menjabat Wedana Cicurug Sukabumi, beliau menambah ilmunya dengan berguru kepada para pakar Pencak Silat Cianjur antara lain kepada Bapak H. Obing Ibrahim, Rd. Muhidin murid Rd. Brata (putera Rd H. Ibrahim, pendiri aliran Cikalong), Rd. Idrus dan Rd. Didi, khususnya dalam penguasaan jurus-jurus jalan tengah Cikalong.

Tahun 1955, Bapak M. Popo turut dalam team pengamanan Konfrensi Asia Afrika dan kemudian menjadi salah seorang pendiri P3S Gagak Lumayung.

Dari sekian banyak muridnya, tercatat antara lain Bapak Yayat R. Suryaatmaja (Bandung), Bapak Tarmedi (Bandung), Bapak Tjasmedi (Bandung), Bapak Aleh (Bandung) dan banyak lagi.
Semasa hidupnya beliau sering menjalin silaturahmi dengan para tokoh pencak silat lainnya saat itu seperti Bapak Rd. Ema Bratakusumah, Bapak Zainal Abidin (Ketua P3S Gagak Lumayung yang pertama) dan dengan para tokoh dan sesepuh pencak silat Cianjur.

Beliau wafat bulan Januari 2003 dalam usia 84 tahun, dimakamkan di Sukaraja Sukabumi. Sebelum wafat, beliau beramanat kepada para putera dan para murid utamanya untuk meneruskan dan mengembangkan Perguruan Pencak Silat Sanalika.